Makna Keluasan

>> Senin, 15 Juni 2009

Mungkin cerita dibawah ini bisa menjadi inspirasi buat hidup qta....

Seorang guru sufi mendatangi seorang muridnya ketika wajahnya belakangan ini selalu tampak murung.

"Kenapa kau selalu murung, nak? Bukankah banyak hal yang indah di dunia ini? Ke mana perginya wajah bersyukurmu?" sang Guru bertanya.

"Guru, belakangan ini hidup saya penuh masalah. Sulit bagi saya untuk tersenyum. Masalah datang seperti tak ada habis-habisnya," jawab sang murid muda.


Sang Guru terkekeh. "Nak, ambil segelas air dan dua genggam garam. Bawalah kemari. Biar kuperbaiki suasana hatimu itu." Si murid pun beranjak pelan tanpa semangat. Ia laksanakan permintaan gurunya itu, lalu kembali lagi membawa gelas dan garam sebagaimana yang diminta.

"Coba ambil segenggam garam, dan masukkan ke segelas air

itu," kata Sang Guru. "Setelah itu coba kau minum airnya sedikit." Si murid pun melakukannya. Wajahnya kini meringis karena meminum air asin.

"Bagaimana rasanya?" tanya Sang Guru.

"Asin, dan perutku jadi mual," jawab si murid dengan wajah yang masih meringis.

Sang Guru terkekeh-kekeh melihat wajah muridnya yang meringis keasinan.

"Sekarang kau ikut aku." Sang Guru membawa muridnya ke danau di dekat tempat mereka. "Ambil garam yang tersisa, dan tebarkan ke danau." Si murid menebarkan segenggam garam yang tersisa ke danau, tanpa bicara. Rasa asin di mulutnya belum hilang. Ia ingin meludahkan rasa asin dari mulutnya, tapi tak dilakukannya. Rasanya tak sopan meludah di hadapan mursyid, begitu pikirnya.

"Sekarang, coba kau minum air danau itu," kata Sang Guru sambil mencari batu yang cukup datar untuk didudukinya, tepat di pinggir danau.

Si murid menangkupkan kedua tangannya, mengambil air danau, dan membawanya ke mulutnya lalu meneguknya. Ketika air danau yang dingin dan segar mengalir di tenggorokannya, Sang Guru bertanya kepadanya, "Bagaimana rasanya?"

"Segar, segar sekali," kata si murid sambil mengelap bibirnya dengan punggung tangannya. Tentu saja, danau ini berasal dari aliran sumber air di atas sana. Dan airnya mengalir menjadi sungai kecil di bawah. Dan sudah pasti, air danau ini juga menghilangkan rasa asin yang tersisa di mulutnya.

"Terasakah rasa garam yang kau tebarkan tadi?"

"Tidak sama sekali," kata si murid sambil mengambil air dan meminumnya lagi. Sang Guru hanya tersenyum memperhatikannya, membiarkan muridnya itu meminum air danau sampai puas.

"Nak," kata Sang Guru setelah muridnya selesai minum. "Segala masalah dalam hidup itu seperti segenggam garam. Tidak kurang, tidak lebih. Hanya segenggam garam. Banyaknya masalah dan penderitaan yang harus kau alami sepanjang kehidupanmu itu sudah dikadar oleh Allah, sesuai untuk dirimu. Jumlahnya tetap, segitu-segitu saja, tidak berkurang dan tidak bertambah. Setiap manusia yang lahir ke dunia ini pun demikian. Tidak ada satu pun manusia, walaupun dia seorang Nabi, yang bebas dari penderitaan dan masalah."

Si murid terdiam, mendengarkan.

"Tapi Nak, rasa `asin' dari penderitaan yang dialami itu sangat tergantung dari besarnya 'qalbu'(hati) yang menampungnya. Jadi Nak, supaya tidak merasa menderita, berhentilah jadi gelas. Jadikan qalbu dalam dadamu itu jadi sebesar danau.


....



.::Read more::.

Bebaskan Prita !

>> Jumat, 05 Juni 2009


Untuk mendukung Prita Mulyasari, email ini sengaja disebar agar rumah sakit tidak seenaknya memberlakukan pasiennya. Juga untuk memperkuat dunia online di negeri ini. Isi email ini diperoleh dari milis jurnalisme [post by andi muhyiddin].

Berikut isi email tersebut:

Email Bagian 1 (Dikutip dari Suara Pembaca detik.com)

Jangan sampai kejadian saya ini akan menimpa ke nyawa manusia lainnya. Terutama anak-anak, lansia, dan bayi. Bila anda berobat berhati-hatilah dengan kemewahan rumah sakit (RS) dan title international karena semakin mewah RS dan semakin pintar dokter maka semakin sering uji coba pasien, penjualan obat, dan suntikan.




Saya tidak mengatakan semua RS international seperti ini tapi saya mengalami kejadian ini di RS Omni International. Tepatnya tanggal 7 Agustus 2008 jam 20.30 WIB. Saya dengan kondisi panas tinggi dan pusing kepala datang ke RS OMNI Internasional dengan percaya bahwa RS tersebut berstandard International, yang tentunya pasti mempunyai ahli kedokteran dan manajemen yang bagus.

Saya diminta ke UGD dan mulai diperiksa suhu badan saya dan hasilnya 39 derajat. Setelah itu dilakukan pemeriksaan darah dan hasilnya adalah thrombosit saya 27.000 dengan kondisi normalnya adalah 200.000. Saya diinformasikan dan ditangani oleh dr Indah (umum) dan dinyatakan saya wajib rawat inap. dr I melakukan pemeriksaan lab ulang dengan sample darah saya yang sama dan hasilnya dinyatakan masih sama yaitu thrombosit 27.000.

dr I menanyakan dokter specialist mana yang akan saya gunakan. Tapi, saya meminta referensi darinya karena saya sama sekali buta dengan RS ini. Lalu referensi dr I adalah dr H. dr H memeriksa kondisi saya dan saya menanyakan saya sakit apa dan dijelaskan bahwa ini sudah positif demam berdarah.

Mulai malam itu saya diinfus dan diberi suntikan tanpa penjelasan atau izin pasien atau keluarga pasien suntikan tersebut untuk apa. Keesokan pagi, dr H visit saya dan menginformasikan bahwa ada revisi hasil lab semalam. Bukan 27.000 tapi 181.000 (hasil lab bisa dilakukan revisi?). Saya kaget tapi dr H terus memberikan instruksi ke suster perawat supaya diberikan berbagai macam suntikan yang saya tidak tahu dan tanpa izin pasien atau keluarga pasien.

Saya tanya kembali jadi saya sakit apa sebenarnya dan tetap masih sama dengan jawaban semalam bahwa saya kena demam berdarah. Saya sangat khawatir karena di rumah saya memiliki 2 anak yang masih batita. Jadi saya lebih memilih berpikir positif tentang RS dan dokter ini supaya saya cepat sembuh dan saya percaya saya ditangani oleh dokter profesional standard Internatonal.

Mulai Jumat terebut saya diberikan berbagai macam suntikan yang setiap suntik tidak ada keterangan apa pun dari suster perawat, dan setiap saya meminta keterangan tidak mendapatkan jawaban yang memuaskan. Lebih terkesan suster hanya menjalankan perintah dokter dan pasien harus menerimanya. Satu boks lemari pasien penuh dengan infus dan suntikan disertai banyak ampul.

Tangan kiri saya mulai membengkak. Saya minta dihentikan infus dan suntikan dan minta ketemu dengan dr H. Namun, dokter tidak datang sampai saya dipindahkan ke ruangan. Lama kelamaan suhu badan saya makin naik kembali ke 39 derajat dan datang dokter pengganti yang saya juga tidak tahu dokter apa. Setelah dicek dokter tersebut hanya mengatakan akan menunggu dr H saja.

Esoknya dr H datang sore hari dengan hanya menjelaskan ke suster untuk memberikan obat berupa suntikan lagi. Saya tanyakan ke dokter tersebut saya sakit apa sebenarnya dan dijelaskan saya kena virus udara. Saya tanyakan berarti bukan kena demam berdarah. Tapi, dr H tetap menjelaskan bahwa demam berdarah tetap virus udara. Saya dipasangkan kembali infus sebelah kanan dan kembali diberikan suntikan yang sakit sekali.

Malamnya saya diberikan suntikan 2 ampul sekaligus dan saya terserang sesak napas selama 15 menit dan diberikan oxygen. Dokter jaga datang namun hanya berkata menunggu dr H saja.

Jadi malam itu saya masih dalam kondisi infus. Padahal tangan kanan saya pun mengalami pembengkakan seperti tangan kiri saya. Saya minta dengan paksa untuk diberhentikan infusnya dan menolak dilakukan suntikan dan obat-obatan.

Esoknya saya dan keluarga menuntut dr H untuk ketemu dengan kami. Namun, janji selalu diulur-ulur dan baru datang malam hari. Suami dan kakak-kakak saya menuntut penjelasan dr H mengenai sakit saya, suntikan, hasil lab awal yang 27.000 menjadi revisi 181.000 dan serangan sesak napas yang dalam riwayat hidup saya belum pernah terjadi. Kondisi saya makin parah dengan membengkaknya leher kiri dan mata kiri.

RE: Isi email Prita Mulyasari
Email Bagian 2
dr H tidak memberikan penjelasan dengan memuaskan. Dokter tersebut malah mulai memberikan instruksi ke suster untuk diberikan obat-obatan kembali dan menyuruh tidak digunakan infus kembali. Kami berdebat mengenai kondisi saya dan meminta dr H bertanggung jawab mengenai ini dari hasil lab yang pertama yang seharusnya saya bisa rawat jalan saja. dr H menyalahkan bagian lab dan tidak bisa memberikan keterangan yang memuaskan.

Keesokannya kondisi saya makin parah dengan leher kanan saya juga mulai membengkak dan panas kembali menjadi 39 derajat. Namun, saya tetap tidak mau dirawat di RS ini lagi dan mau pindah ke RS lain. Tapi, saya membutuhkan data medis yang lengkap dan lagi-lagi saya dipermainkan dengan diberikan data medis yang fiktif.

Dalam catatan medis diberikan keterangan bahwa bab (buang air besar) saya lancar padahal itu kesulitan saya semenjak dirawat di RS ini tapi tidak ada follow up-nya sama sekali. Lalu hasil lab yang diberikan adalah hasil thrombosit saya yang 181.000 bukan 27.000.

Saya ngotot untuk diberikan data medis hasil lab 27.000 namun sangat dikagetkan bahwa hasil lab 27.000 tersebut tidak dicetak dan yang tercetak adalah 181.000. Kepala lab saat itu adalah dr M dan setelah saya komplain dan marah-marah dokter tersebut mengatakan bahwa catatan hasil lab 27.000 tersebut ada di Manajemen Omni. Maka saya desak untuk bertemu langsung dengan Manajemen yang memegang hasil lab tersebut.

Saya mengajukan komplain tertulis ke Manajemen Omni dan diterima oleh Og(Customer Service Coordinator) dan saya minta tanda terima. Dalam tanda terima tersebut hanya ditulis saran bukan komplain. Saya benar-benar dipermainkan oleh Manajemen Omni dengan staff Og yang tidak ada service-nya sama sekali ke customer melainkan seperti mencemooh tindakan saya meminta tanda terima pengajuan komplain tertulis.

Dalam kondisi sakit saya dan suami saya ketemu dengan Manajemen. Atas nama Og (Customer Service Coordinator) dan dr G (Customer Service Manager) dan diminta memberikan keterangan kembali mengenai kejadian yang terjadi dengan saya.

Saya benar-benar habis kesabaran dan saya hanya meminta surat pernyataan dari lab RS ini mengenai hasil lab awal saya adalah 27.000 bukan 181.000. Makanya saya diwajibkan masuk ke RS ini padahal dengan kondisi thrombosit 181.000 saya masih bisa rawat jalan.

Tanggapan dr G yang katanya adalah penanggung jawab masalah komplain saya ini tidak profesional sama sekali. Tidak menanggapi komplain dengan baik. Dia mengelak bahwa lab telah memberikan hasil lab 27.000 sesuai dr M informasikan ke saya. Saya minta duduk bareng antara lab, Manajemen, dan dr H. Namun, tidak bisa dilakukan dengan alasan akan dirundingkan ke atas (Manajemen) dan berjanji akan memberikan surat tersebut jam 4 sore.

Setelah itu saya ke RS lain dan masuk ke perawatan dalam kondisi saya dimasukkan dalam ruangan isolasi karena virus saya ini menular. Menurut analisa ini adalah sakitnya anak-anak yaitu sakit gondongan namun sudah parah karena sudah membengkak. Kalau kena orang dewasa laki-laki bisa terjadi impoten dan perempuan ke pankreas dan kista.

Saya lemas mendengarnya dan benar-benar marah dengan RS Omni yang telah membohongi saya dengan analisa sakit demam berdarah dan sudah diberikan suntikan macam-macam dengan dosis tinggi sehingga mengalami sesak napas. Saya tanyakan mengenai suntikan tersebut ke RS yang baru ini dan memang saya tidak kuat dengan suntikan dosis tinggi sehingga terjadi sesak napas.

Suami saya datang kembali ke RS Omni menagih surat hasil lab 27.000 tersebut namun malah dihadapkan ke perundingan yang tidak jelas dan meminta diberikan waktu besok pagi datang langsung ke rumah saya. Keesokan paginya saya tunggu kabar orang rumah sampai jam 12 siang belum ada orang yang datang dari Omni memberikan surat tersebut.

Saya telepon dr G sebagai penanggung jawab kompain dan diberikan keterangan bahwa kurirnya baru mau jalan ke rumah saya. Namun, sampai jam 4 sore saya tunggu dan ternyata belum ada juga yang datang ke rumah saya. Kembali saya telepon dr G dan dia mengatakan bahwa sudah dikirim dan ada tanda terima atas nama Rukiah.

RE: Isi email Prita Mulyasari
Email Bagian 3 (tamat)
Ini benar-benar kebohongan RS yang keterlaluan sekali. Di rumah saya tidak ada nama Rukiah. Saya minta disebutkan alamat jelas saya dan mencari datanya sulit sekali dan membutuhkan waktu yang lama. Logikanya dalam tanda terima tentunya ada alamat jelas surat tertujunya ke mana kan ? Makanya saya sebut Manajemen Omni pembohon besar semua. Hati-hati dengan permainan mereka yang mempermainkan nyawa orang.

Terutama dr G dan Og, tidak ada sopan santun dan etika mengenai pelayanan customer, tidak sesuai dengan standard international yang RS ini cantum.

Saya bilang ke dr G, akan datang ke Omni untuk mengambil surat tersebut dan ketika suami saya datang ke Omni hanya dititipkan ke resepsionis saja dan pas dibaca isi suratnya sungguh membuat sakit hati kami.

Pihak manajemen hanya menyebutkan mohon maaf atas ketidaknyamanan kami dan tidak disebutkan mengenai kesalahan lab awal yang menyebutkan 27.000 dan dilakukan revisi 181.000 dan diberikan suntikan yang mengakibatkan kondisi kesehatan makin memburuk dari sebelum masuk ke RS Omni.

Kenapa saya dan suami saya ngotot dengan surat tersebut? Karena saya ingin tahu bahwa sebenarnya hasil lab 27.000 itu benar ada atau fiktif saja supaya RS Omni mendapatkan pasien rawat inap.

Dan setelah beberapa kali kami ditipu dengan janji maka sebenarnya adalah hasil lab saya 27.000 adalah fiktif dan yang sebenarnya saya tidak perlu rawat inap dan tidak perlu ada suntikan dan sesak napas dan kesehatan saya tidak makin parah karena bisa langsung tertangani dengan baik.

Saya dirugikan secara kesehatan. Mungkin dikarenakan biaya RS ini dengan asuransi makanya RS ini seenaknya mengambil limit asuransi saya semaksimal mungkin. Tapi, RS ini tidak memperdulikan efek dari keserakahan ini.

Sdr Og menyarankan saya bertemu dengan direktur operasional RS Omni (dr B). Namun, saya dan suami saya sudah terlalu lelah mengikuti permainan kebohongan mereka dengan kondisi saya masih sakit dan dirawat di RS lain.

Syukur Alhamdulilah saya mulai membaik namun ada kondisi mata saya yang selaput atasnya robek dan terkena virus sehingga penglihatan saya tidak jelas dan apabila terkena sinar saya tidak tahan dan ini membutuhkan waktu yang cukup untuk menyembuhkan.

Setiap kehidupan manusia pasti ada jalan hidup dan nasibnya masing-masing. Benar. Tapi, apabila nyawa manusia dipermainkan oleh sebuah RS yang dipercaya untuk menyembuhkan malah mempermainkan sungguh mengecewakan.

Semoga Allah memberikan hati nurani ke Manajemen dan dokter RS Omni supaya diingatkan kembali bahwa mereka juga punya keluarga, anak, orang tua yang tentunya suatu saat juga sakit dan membutuhkan medis. Mudah-mudahan tidak terjadi seperti yang saya alami di RS Omni ini.

Saya sangat mengharapkan mudah-mudahan salah satu pembaca adalah karyawan atau dokter atau Manajemen RS Omni. Tolong sampaikan ke dr G, dr H, dr M, dan Og bahwa jangan sampai pekerjaan mulia kalian sia-sia hanya demi perusahaan Anda. Saya informasikan juga dr H praktek di RSCM juga. Saya tidak mengatakan RSCM buruk tapi lebih hati-hati dengan perawatan medis dari dokter ini.

Salam,
Prita Mulyasari
Alam Sutera
prita.mulyasari@ yahoo.com
081513100600

....



.::Read more::.

Bebaskan Prita !

>> Rabu, 03 Juni 2009



Ada apa dengan Indonesia saat ini….lagi berbahagianya dengan pesta demokrasi yang lagi marak-maraknya berkampanye. Tapi di hebohkan dengan kasus ibu Prita mulyasari yang ditahan akibat pendapatnya tentang buruknya pelayanan rumah sakit yang ia terima yang tersebar di internet dan mailing list sebagai pihak yang mencorengkan kredibilitas rumah sakit.


Sejak melihat kasus ini ditayangkan sebuah stasiun televisi, perasaan adanya ketidak adilan sebagai seorang warga yang mengkritik atas pelayanan yang ia terima, saat itu berfikir dimana titik kesalahan yang dilakukan oleh ibu Prita. Sebagai hak warga Negara bebas untuk melakukan tanggapan, kritik ataupun saran dengan berbagai elemen.

Masalah ini menjadi perhatian saya dikarenakan saya secara pribadi saat inipun juga dalam kondisi sedang dalam pengobatan di sebuah rumah sakit Jakarta.
Dengan kondisi tersebut, apabila saya dalam kondisi seperti ibu ratih yang menerima pelayanan dan pelayanan tersebut kurang memuaskan ini adalah hak pasien untuk memberikan kritik ataupun tanggapan dengan kasus yang pernah ia alami.

Disisi lain kita sebagai pasien merupakan konsumen yang harus dihargai dan mempunya hak untuk menerima pelayanan sebaik mungkin, dengan biaya yang telah kita keluarkan tentunya hasil yang terbaik adalah harapan. Tapi tidak dengan ibu prita, hasil pelayanan yang kurang memuaskan ditambah pula dengan tuntutan dengan dimsukkannya ke dalam buih atas pendapat yang ia sebarkan di dunia maya dan mailing list lainnya.

Hal ini sesuai dengan pendapat Sub Komisi Pemantauan dan Penyelidikan Komnas HAM.
"Jika dilihat kasus Prita itu jalurnya perdata. Tapi kenapa yang dimajukan adalah pidananya. Jika memang itu melalui media, pihak Omni seharusnya menempuh jalur yang sama karena mereka punya hak jawab untuk membantahnya melalui media," tegas Nurcholis.

Dalam situs okezone saya kutip, “Prita Mulyasari kini ditahan di LP Wanita Tangerang karena dituduh telah melakukan pencemaran nama baik terhadap rumah Sakit Omni Internasional, Alam Sutra, Serpong, Kota Tangerang Selatan.
Dia dianggap melakukan tindak pidana setelah menulis email di milis internet yang berisi keluhan pelayanan rumah sakit itu yang dinilai buruk.


Pihak Kaukus Parlemen Untuk HAM juga menyesalkan dan memprihatinkan empat hal yaitu:

Pertama, secara hakikat Prita adalah korban, statusnya harus mendapat keadilan atas tidak diperolehnya hak-hak sebagai konsumen.

Kedua, keluhan yang disampaikan di internet merupakan bagian dari tindakan kontrol masyarakat terhadap layanan publik. Apalagi dalam kasus yang menimpa Prita, internet bukan ditujukan untuk konsumsi publik, tapi komunitas terbatas di lingkungan teman-temannya.

Ketiga, konteks jaminan negara akan penegakan HAM, kebebasan berpendapat, maka pengenaan pasal pencemaran nama baik amat kontraproduktif yang tidak sejalan dengan hak politik rakyat.

Keempat, pelakasaan UU No 11 Tahun 2008, Pasal 27 Ayat 3, pertimbangan kemanusiaan dalam penerapan tata beracara karena penahanan tersangka tidak responsif jender karena berputra balita dua orang. Sepatutnya pada tersangka dilakukan penahanan rumah, karena tidak mengindikasikan risiko akan menghalangi proses hukum jika status tersangka diberikan.

Ibu Maya bersabarlah,
karna keadilan itu akan datang pada ibu…………..
dirumah telah menanti 2 buah hatimu yang menunggu belaian kasih sayangmu. Saya akan slalu mendo’akan ibu akan segera terbebas dari tuduhan-tuduhan yang diberikan. Amin………………..



....



.::Read more::.

Nikmat Allah Tak Terhingga


Wahai saudaraku………., sungguh Allah SWT telah memberikan kepada kita berbagai kenikmatan yang sangat banyak yang tak terhitung jumlahnya ada nikmat kehidupan, kesehatan, pangkat kedudukan, kecukupan hidup dan sebagainya.

“Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, tidaklah kamu dapat menghitungnya, sesungguhnya manusia itu sangat dzhalim dan sangat mengingkari nikmat Allah.”

(SQ Ibrahim ayat 34)

Firmannya “nikmat Allah” adalah kenikmatan tunggal bermakna umum (nikmat-nikmat). Karena ushul, kalimat mufrad apabila nudhaf maka bermakna umum.

Ibnu Abi al Hauraa berkata, “Ada seorang wanita yang berkata kepadaku; “tentang apa?” wanita tadi menjawab: “aku ingin sekali mengenal nikmat-nikmat Allah yang dicurahkan kepada ku dalam sekejap. Aku pun berkata “Sungguh engkau ingin mengetahui sesuatu yang tidak bisa dijangkau oleh akal kita !”

Bakr bin Abdillah mengatakan, “Wahai anak adam, apabila engkau ingin mengetahui kadar nikmat Allah yang dicurahkan kepadamu, maka pejamkanlah matamu”.

Akan tetapi sudahkah kita membalas semua nikmat ini dengan bersyukur kepada sang pemberi nikmat. Ataukah kita masih lalai dan lupa diri??

Allah Berfirman :

Dan ingatlah jga), tatkala tuhanmu memaklumkan, Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari nikmatKu, maka sesungguhnya azabku sangat pedih” (QS Ibrohim ayat 7)

Wujudkanlah syukur kepada Allah, wahai saudaraku, agar kenimatan ini bertambah dan di ridhoi olehNya. Imam Ibnu Qudamah menjelaskan dalam minhajul Qosidin hal 353 “Syukur dengan hati yaitu meniatkan untuk kebaikan, dengan lisan yaitu menampakkan tanda syukur tersebut dengan ucapan tahmid (alhamdulilah) dan dengan anggota badan yaitu menggunakan nikmat tersebut dalam ketaatan kepada Allah serta tidak menggunakannya untuk bermaksiat kepadaNya.”

Di Kutip dari “Bila Sakit Menyapa”




....



.::Read more::.

Jiwa yang Bijak

>> Sabtu, 23 Mei 2009


Segala persoalan hidup seakan diurai satu-satu dalam kejadian manusia. Hingga hal-hal yang kita sukai maupun hal-hal yang tidak kita sukai berlalu dalam hidup kita. Tentunya penyikap jiwa dalam mengatasi persoalan tersebut yaitu dengan jiwa yang bijak serta mendesak teori-teori keikhlasan dan tawakal untuk diaplikasikan secara nyata dalam keseharian..

Tanpa disadari kadang kita menyikapi hal-hal yang datang dan apabila hal tersebut tidak kita sukai akan terlintas tabiat untuk membandingkan dengan yang lain, karna kita selalu mengkomparasikan hal-hal yang dimana itu menjadi pilihan. Namun sifat membandingkan ini akan menjadi hal buruk ketika penyikapan hal tersebut salah dilakukan. Membandingkan ibarat dua sisi mata uang. Ia baik manakala bersemayam dalam dada orang beriman. Ia akan melecut diri menjadi lebih baik dari hari ke hari, lebih aktif, produktif, juga semakin tawadhu dengan limpah karunia. Jauh diri dari meremehkan hal-hal kecil untuk kesalahan maupun kebaikan, karena semua akan mempunyai balasan. Ia akan menjadi pribadi yang pandai menghargai, karena pada hakikatnya Allah menciptakan tiap diri dengan kekhasan yang unik dan menarik. Intinya dengan sering membandingkan makin tumbuh kesadarannya akan ketidaksempurnaan diri, sehingga bibit arogansi tak akan sempat mengotori.
Tapi tabiat membandingkan bisa menjadi racun, jika ia menemukan lahan subur di jiwa orang-orang yang susah untuk bersyukur. Membandingkan menemukan karibnya yang bernama hasad, iri, dan dengki. Sebagaimana iblis yang enggan sujud kepada adam. Ia membawa penyakit yang tidak saja merugikan orang yang didengki, tapi juga membinasakan diri sendiri. Na’udzubillah.
Seumur dengan usia keberadaan manusia ketika iblis merasa lebih baik dari adam, ketika qobil merasa lebih mempunyai hak dari habil. Berlanjut hingga kelak bumi ini menutup bentang kasih diatasnya, karakter ini akan terus ada.
Membandingkan jenis kedua ini, yang menjadikan orang hidup laksana mayat berjalan. Ia lesu oleh prasangka, ia kalah sebelum bertanding, lemah sebelum bertanding, lemah sebelum potensi dan kekuatan menyumbangkan kontribusi. Sungguh dialah orang yang merugi. Disini sebaik-baik hikmah yang bisa diambil adalah sebagaimana sabda Rosulullah SAW, “Sungguh menakjubkan kaum muslimin. Jika ia diberi nikmat ia bersyukur, dan itu baik baginya. Jika ia ditimpa musibah/masalah/ujian ia barsabar, dan itu baik baginya”. Tak ada yang salah dalam penciptaanNya yang berbeda-beda”.
Kini, yang harus diluruskan adalah cara pandang dan kemampuan penerimaan. Seperti kata Ibnul Qoyyim rahimahullah, “Letak kebahagiaan manusia adalah pada semangatnya untuk meraih perkara yang bermanfaat bagi dirinya, baik untuk kehidupan dunia maupun akhiratnya.
Maka tuntutnya jelas, jiwa yang selalu mau belajar, agar muncul nilai-nilai kebaikan yang bermanfaat minimal untuk diri sendiri. Menjadi bijak itu pekerjaan seumur hidup. Maka wajib kiranya sifat sabar, syukur, qana’ah, dan husnudzon, agar tabiat membandingkan mendapat keadilannya dalam jiwa manusia, yaitu ditempatkan pada situasi dan kondisi yang tepat dan benar. Wallahu Al’alam.



....



.::Read more::.

CerItA TenTanG DuNia


Kehidupan akan selalu berganti dengan berbagai macam cerita. Setiap manusia yang dihadirkan dalam bumi ini pasti mempunyai makna tersendiri dan pertanggung jawaban akan hidup yang mereka jalani karna Allah pasti mengharapkan sesuatu kepada manusia yang telah mengizinkan kita untuk berada di dunia. Waktu yang diberikan dengan komposisi yang sama, membuat manusia tidak perlu merasa iri dengan manusia yang

lain, namun memang dunia menjadi pijakan bagi orang-orang yang dengki dan hasad. Kenapa tidak selalu timbul di setiap butir-butir keinginan manusia yang tak pernah berhenti tuk merasakan keindahan dan mencari tahu misteri-misteri bumi yang belum pernah kita tahu. Herannya manusia selalu berusaha dengan sesuatu yang ia punya untuk menggapai segala yang ia inginkan, entah dengan cara-cara yang baik ataupun dengan cara yang haram.

Saya pun kadang tidak bisa menebak kepribadian ataupun keinginan diri yang datang hingga semua dunia ingin rasanya kujelajahi dan mencari tahu maksud atau apalah yang dapat menenang jiwa hingga benar-benar terlepas dari hal-hal yang yang tidak kita inginkan, namun hal itu tak jua ditemukan.

Ada apa dengan manusia??

Mereka begitu unik dan sulit ditebak. Kadang berbicara A dalam beberapa menit dia akan berubah dengan pendapatnya yang berbeda. Mudah-mudahan ini tentunya menjadi hal awal untuk bisa intropeksi diri secara menyeluruh dan membuat kita benar-benar sadar bahwa tidak perlu berlari terlalu jauh, menyelusuri laut yang begitu dalam dan dinginnya angin hembusan yang ada dipegunungan karna harapan itu ternyata ada didepan kita dan itu selalu ada untuk kita. Yaitu pencahayaan dari pantulan diri yang selalu menemani kita tuk selamanya. Barang itu akan menjadi indah apabila cahaya itu selalu diisi dengan hal-hal yang disukai oleh Dzat yang telah menciptakan kita dan cahaya itu akan semakin terus benderang hingga menjadi teman abadi kita di akhirat nanti.

Sendiri menyepi
Tengelam dalam renungan
Ada apa aku seakan ku jauh dari ketenangan
Perlahanku cari
mengapa diriku hampa
mungkin ada salah
mungkinku tersesat
mungkin dan mungkin lagi

Oh Tuhan aku merasa
Sendiri menyepi
Ingin ku menangis menyesali diri
Mengapa terjadi
Sampai kapan aku begini
Resah tak bertepi
Kembalikan aku cahaya Mu yang sempat menyala
Benderang dihidupku…………………..

By: Edcoustic



....



.::Read more::.

Mengapa Harus Berbohong Tentang Umur…


Seringkali saya memperhatikan banyak wanita yang secara sengaja memperlihatkan dirinya yang berbeda dengan biasanya, yang ditonjolkan dengan cara bicara dan berpakaian. Saya secara jujur kurang simpatik ketika banyak wanita-wanita yang sudah diatas saya, yah bisa dibilang menjadi orang tua saya berpakaian sangat minim, ketat dan berbicara tidak bertutur lembut melainkan cuek dan kasar. Walaupun mengupayakan diri untuk menjadi pribadi yang bisa diterima oleh semua umur tidak dengan cara mengubah yang semestinya menjadi teladan anak-anak yang melihat dan memperhatikannya.

Lingkungan sosial dimana kita berada akan selalu menyimpulkan sesuatu tentang diri kita, termasuk umur kita sekaligus mengharapkan kita berprilaku sesuai dengan kesimpulan mereka tentang umur klender yang mereka perkirakan sudah kita lalui. Dan seringkali mau tidak mau kesimpulan mereka tersebut justru menjadi salah satu sumber tekanan sosial tertentu. Kita tampil sering terpaksa dan harus tampil dan berprilaku sebagai seseorang dalam usia/tahap perkembangan tertentu yang tidak sesuai dengan apa yang sebenarnya ingin kita tampilkan dan apa yang sebenarnya mampu kita tampilkan.
Banyak kasus dari wanita-wanita yang secara sengaja menampilkan dirinya lebih muda dari sepantar umurnya.
Tentunya banyak penyebab perempuan seolah dituntut untuk berbohong tentang umur sebagai berikut :
Pertama, bisa disebabkan oleh tuntutan karier, karena pada kenyataanya diskriminasi umur sangat berperan dalam seleksi karyawati. Banyak perkerjaan yang lebih mengutamakan penampilan fisik daripada kemampuan intelektual dan kebijakan, sehingga sering aspek kemampuan dan pengalaman tidak menjadi pertimbangan, dan seleksi karyawati. Muda, cantik, langsing, menarik, sedikit genit dan sedikit kemampuan verbalisasi sering menjadi modal awal seseorang untuk cepat mendapatkan perkerjaan. Tuntutan kualifikasi berdasar diskriminasi umur ini memang tidak terlampau berlaku pada pria, sehingga hal ini lebih banyak mengena pada perempuan.

Kedua, perempuan mungkin saja merasa nyaman dengan umur 40 tahun lebih, namun mereka akan meresa pada umur tersebut tubuh dan penampilan fisiknya maka keputusan untuk operasi plastic, menghilangkan kerutan muka, dan sebagainya dengan berbagai upaya dilakukan.

Ketiga, perempuan terpaksa berbohong dalam hal umur karena banyak hal yang hilang pada perempuan oleh bertambahnya umur. Hal ini terkait dengan kecenderungan social untuk lebih menempatkan aspek kemudaan dan karakteristik penampilan fisik perempuan tertentu sebagai komoditas. Banyak iklan yang menawarkan krim perawat kulit guna menghindarkan diri dari keriput, krim pemutih kulit, pil pelangsing tubuh dengan menggunakan peragawati muda usia yang cantik, langsing dan berkulit putih sebagai modal iklannya. Kondisi ini membuat keadaan seperti seolah tidak ada tempat bagi orang yang sudah berumur, berbadan besar, gemuk, apalagi bila sekaligus ia juga berkulit hitam. Maka berlomba-lombalah para perempuan mendatangi salon kecantikan untuk mengubah bagian fisik agar paling tidak mendekati kualifikasi penampilan fisik seperti “harapan” lingkungan social tersebut.

Terlepas dari keprihatinan para wanita yang berbohong, tentu saja dengan berjalannya waktu kita tidak dapat terhindar dari pertimbangan umur, maka kebohongan-kebohongan lanjut akan harus kita lakukan. Karena, disamping harus berupaya keras mempertahankan perilaku dan penampilan yang tidak selaras dengan umur yang sebenarnya, makin kita akan juga terjerumus dalam peristiwa social yang tidak mengenakkan. Mengapa? Karena sikap konsisten terhadap perilaku dan menampilkan di bawah umur sebenarnya membutuhkan energi mental yang tidak sederhana. Ketegangaan emosional yang menyertai upaya keras tersebut sering membuat kita justru mengalami kegagalan dalam bersikap dan berprilaku kemudaan-kemudaan tersbut secara konsisten. Hal ini akan membuat justru perilaku kita tampak lucu dan tidak wajar, bahkan cenderung “bloon’ (stupid). Contohnya kita yang sering diolok-olok oleh sekeliling kita.

Jadi mengapa kaum perempuan harus berbohong tentang umur?

Yang patut dan seyogyanya dipelajari oleh kaum perempuan adalah memisahkan antara siapa dirinya dan bagaimana penampilan fisiknya. Ketahuila, keyakinan diri kita akan berkembang dari kebohongan akan umur. Biarkanlah umur bertambah, dan banggalah akan pertambahan umur katakanlah 50 tahun, kita akan menjadi lebih baik, lebih matang serta lebih berpengalaman daripada saat kita berusia 25 tahun.

Keterpakuan dan pemusatan perhatian yang berlebihan serta secara berlanjut berupaya keras berpenampilan muda, justru akan menghambat optimilisasi fungsi potensi mental kita yang positif dan bahkan merampas keyakinan diri kita akan dasar kematangan alami yang sebenarnya telah diberikan oleh Allah SWT kepada kita. Dengan demikian, kita akan merasa lebih baik dan lebih percaya diri karena tidak perlu harus merasa tetap muda dalam penampilan fisik.

Pancaran dari rasa percaya diri akan terungkap pada penampilan fisik yang lebih selaras dan perilaku yang terintegrasi kepribadian yang mengagumkan. Adalah lebih baik mengakui umur sebagaimana adanya dengan keyakinan diri serta perawatan fisik selaras, maka kita dapat tampil segar dan sehat seolah masih di bawah umur kalender kita, daripada sebaliknya.


....



.::Read more::.

Coba Widget

Coba Widget

Welcom To My Blog
Blogger Template by ardi33.
Art Maker 1 Edited by ardi33's Template